Inilah Rangkaian Kemeriahan Acara Imlek Tahun 2017 di Solo

GlamourIndonesia.com – Sebelum ditetapkannya hari raya imlek menjadi hari libur nasional, warga Sudiroprajan yang berasal dari etnis Tionghoa dan etnis Jawa selalu hidup rukun berdampingan sejak berpuluh-puluh tahun silam.

Oleh karena itu, setiap datangnya Tahun Baru Cina atau hari raya Imlek, warga kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta ini selalu turut serta memeriahkan  perayaan Imlek.

Nah dalam rangka memeriahkan imlek tahun 2017, masyarakat Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta menggelar acara dengan konsep Pesona Budaya dalam Warna Kebhinekaan. Acara tersebut terbuka untuk umum dan bisa menikmatinya.

Selain itu untuk menyambut datangnya tahun baru imlek tahun 2017, sekitar arah Kantor Balaikota Solo hingga depan Pasar Gede Hardjonagoro, serta bantaran Kali Pepe sudah terlihat pernak pernik khas imlek berupa lampion merah. Pasalnya, wilayah yang bisa disebut sebagai Pecinan-nya Kota Solo itu bakal kembali menggelar acara budaya Grebeg Sudiro pada 10-27 Januari mendatang.

Ketua Panitia Wahyu Sugiarto mengatakan, Grebeg Sudiro yang digelar untuk menyambut Imlek sejak 2007 ini akan mengusung tajuk “Pesona Budaya dalam Warna Kebhinekaan.” Sebab, sejak puluhan tahun silam, warga Sudiroprajan yang berasal dari etnis Tionghoa dan etnis Jawa hidup rukun berdampingan.

“Tema tahun 2017 ini berkaca dari situasi Indonesia akhir-akhir ini,” kata dia, Rabu (4/1). Rangkaian acara Grebeg Sudiro akan dimulai Selasa (10/1) dengan menggelar Lomba Cipta Kreasi Lampion. Sejak 23 Desember 2016 lalu, pihaknya telah mengirimkan undangan ke sekolah-sekolah di Kota Solo, Kabupaten Sukoharjo, dan Klaten untuk memeriahkan lomba yang memperebutkan Piala Walikota Surakarta tersebut.

“Batas akhir pengiriman 15 Januari. Ini adu kreatifitas membuat lampion pada shio Tahun Ayam Api. Nanti lampion para pemenang lomba akan kita pasang di Pasar Gede,” ujar Wahyu. Agenda Grebeg Sudiro berikutnya ialah Wisata Perahu Hias dan Bazar Potensi kekayaan kuliner maupun kerajinan warga Sudiroprajan pada 17-27 Januari.

“Nanti tanggal 17 Januari di aliran Kali Pepe akan berlangsung Lomba Dayung antar Kelurahan Se-Kecamatan Jebres,” imbuhnya saat ditemui di lapak Baksonya di lantai II Pasar Gede Hardjonagoro.

Pada 19 Januari malam, lanjut dia, berlangsung Kirab Umbul Mantram. Prosesi sebagai wujud rasa syukur masyarakat Sudiroprajan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, juga dimeriahkan wisata perahu hias di dekat dermaga Jembatan Gantung Kali Pepe, tak jauh dari Kelenteng Tien Kok Sie.

“Kalau tahun lalu ada wayang kulit, tahun ini ada pementasan ketoprak humor,” terangnya.

Kemudian pada 22 Januari, berlangsung karnaval budaya dengan menyusuri rute, Pasar Gede – Jl. Jendral Sudirman – Jl. Mayor Sunaryo – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. RE. Martadinata – Jl. Cut Nyak Dien – Jl. Ir. H. Juanda – Jl. Jendral Urip Sumoharjo.

“Grebeg Sudiro ini memadukan kultur budaya Tionghoa dan Jawa. Selain ada dua gunungan utama kue keranjang, juga ada gunungan atau jodang berupa potensi warga Sudiroprajan seperti onde-onde, bakpao, janggelut atau di Semarang dikenal Cakwe, bakpia, wajik, tumpeng, sayur dan buah-buahan, serta gunungan kecap. Juga dimeriahkan atraksi barongsai yang dimainkan orang Jawa,” bebernya.

Puncaknya, Sambung Wahyu, pada 27 Januari malam akan berlangsung pesta kembang api dipusatkan di pasar yang dibangun oleh arsitek berkebangsaan Belanda, Thomas Karsten tersebut.

“Total ada 54 grup penampil yang berjumlah sekitar 2000 orang. Untuk anggarannya kurang lebih Rp 200 juta berasal dari Pemkot, Kelurahan, dan sumbangan donatur,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here