Septian Suryawirawan, Badut yang Menjelma Menjadi Milyarder

GlamourIndonesia.com – Di usinya yang baru menginjak 27 ini dirinya berhasil menjadi Miliarder. Ya, Dialah Septian Suryawirawan. Kini, penghasilannya perbulan mencapai jutaan dollar. Dari penghasilannya itu dirinya berhasil membangun rumah mewah di Kota Pahlawan Serta sederet mobil mewah terpakir apik di garasi rumahnya.
Tak mudah untuk mendapatkan semua itu, penuh pelu dan air mata untuk memperoleh semua itu. Kisah pilu pun terurai dibalik kesuksesannya. Lantas, seperti kisahnya, kepada Nextgradio.com Septian secara gamblang bercerita.
Kehadirannya didunia ini ternyata tak diinginkan oleh kedua orang tuanya. Tian hendak digugurkan saat umur kandungan ibundanya memasuki bulan keenam. Namun, takdir berhendak lain, Tuhan justru memberinya kesempatan hidup meski niat aborsi itu sudah bulat. Bayi mungil seberat botol air mineral ukuran satu liter itu berhasil bertahan hidup, meski sempat kekurangan gizi dan darah.
Menurut hasil pemeriksaan media bahwa Tian membutuhkan donor darah. Jika hal tidak berhasil mendapatkan pendonor, besar kemungkinan nyawanya tak bisa terselamatkan.
Parahnya, sang ibu ternyata pergi melarikan diri meninggalkannya yang sedang tergoleh lemas didalam tabung incubator. Sang nenek kemudian hadir menjadi dewa penyelamatnya. Dalam hitungan jam, wanita paruh baya ini mencari pendorong darah golongan AB yang terbilang langka. Beberapa rumah sakit dan PMI ia kunjungi, namun darah untuk cucu tercinta itu tak tersedia.
Sang nenek pun hampir saja menyerah, ia pun kembali ke rumah sakit tempat sang cucuk dirawat. Tiba-tiba seorang wanita renta duduk disebelahnya dan menawarkan diri menjadi pendonor. Berkat orang yang identitasnya hingga kina tidak diketahui itulah Tian kecil berhasil masa kritisnya.
Semua biaya perawatannya selama dirumah sakit ditanggung oleh sang nenek yang diperoleh dari hasil menjual seluruh perhiasan dan harta yang tersisa.
“Mungkin orang yang mendonorkan darahnya itu malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menyelamatkan saya. saya dirawat di rumah sakit selama 15 hari. Biaya rumah sakit semua ditanggung nenek,” kisah Tian saat ditemui oleh Nextgradio.com beberapa waktu lalu di Jakarta.
Setelah itu, Tian dibesarkan oleh neneknya seorang diri yang hanya penjual sate usus dan telur puyuh. Dirinya tinggal di sebuah rumah berukuran 7×3 meter persegi didalam gang buntu di kota Surabaya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini tak pernah sekalipun dijenguk ataupun disusui oleh ibu kandungnya. Sejak kecil, Tian menganggap bahwa neneknya itu sebagai mama, meski ia tahu ibu kandungnya masih ada.
Layaknya anak premature, Tian tumbuh dengan keterbatasan mental dan nutrisi. Dirinya baru bisa berbicara diusia 4 tahun. Maka tak heran banyak orang menyebutnya anak idiot, bahkan orang tuanya sendiri menyebutnya demikian.
“Saya kemudian tumbuh tapi tetap tidak normal karena saya kurang nutrisi dan tidak diberi Asi. Saya ada gangguan saraf motorik. Saya disebut sebagai orang idiot bahkan orang tua saya pun mengatakan demikian. Saya ileran, lari kesana kemari, seperti tidak fokus. Tapi walaupun begitu nenek tetap sayang sama saya seperti anaknya sendiri,” tutur Septian.
“Ada kejadian saat itu saya umur 5 tahun, jujur saya memang malu-maluin diajak ke pesta keluarga. Saya lari-larian tabrak-tabrak orang. lalu nenek saya ditegur mama saya, ‘ngapain kamu ajak anak itu, malu-maluin, anak idiot’.
Terus nenek ajak saya pulang. Saya dikucilkan, nenek saya tersingkirkan dari keluarganya karena sayang sama saya,” sambung Tian yang mulai menitihkan air mata.
Kondisi tersebut jelas mempengaruhi nilai akademis dirinya di sekolah, bahkan saat ia duduk di bangku Taman Kanak-kanak, nilai Tian Jeblok dan tidak layak masuk sekolah dasar. Padahal usianya saat itu sudah mumpuni, namun gurunya menganjurkan agar Tian ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, sang nenek dengan segala upaya akhirnya berhasil memasukkan Tian ke sekolah umum.
Ajaibnya, saat Tian duduk dibangku sekolah dasar, dirinya berangsur normal seperti anak kebanyakan. Ia meyakini semua itu adalah berkat doa sang nenek. Meski demikian, kondisi ini tak mampu mengetuk hati kedua orang tuanya untuk mengakuinya sebagai anak, padahal secara ekonomi, orang tua Tian hidup berkecukupan.
Ayahnya adalah seorang wiraswasta. Hingga Tian tumbuh menjadi anak remaja, orang tua kandungnya tak pernah sekalipun menafkahinya.
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here